Ibu Zahra adalah guru favorit anak-anak Darusslam. Ia mengajar pelajaran agama islam. Salah satu alasan kenapa ia disengai oleh ibunya karena. . . Ya, Ibu Zahra memang baik hati.
“Baik hati bukan berarti tidak boleh marah. Kalau ada di antara kalian yang malas belajar, jelas ibu tidak suka. Jika ada murid yang berbohong, jelas Ibu akan memarahinya. Apalagi jika di antara murid Ibu ada yang mencuri, tangan Ibu ini bisa melayang kena pantatnya.” Begitu suatu kali ketika ia mendengar ada murid yang memujinya.
“Klian tentu ingat dengan hapalan selama dua hari ini. Ayo, siapa yang ingat. Ayat berapa dan dari surat berapakah itu?” Tanya Bu Zahra setelah siswanya selesai membereskan buku iqra.
“Surat Al-Luqman ayat 31!”
“Wah, bagus-bagus. Sekarang siapa yang tahu artinya?”.
Tidak seperti biasanya, kini tak ada adegan mengacungkan tangan. “Lho, Ibu kan belum mengajarkannya”. Sarah, mewakili kawan-kawannya, memberikan alasan kenapa mereka tidak ada yang dapat menjawab.
“Betul, begitu?”
“Betulll” Waduh, kompak betul, ya, mereka
“Baiklah kalu begitu, Ibu akan menuliskan artinya. Klian catat, dan nanti siapa yang sudah selesai cepat temuoi Ibu ditaman samping masjid. Janji…
“Kami perintahkan kepada manusia agar berbuatbaik kepada kedua ibu-bapaknya, ibunya telah mengandung dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Berterima kasihlah kepada-Ku dan kepada kedua kedua orang ibu-bapakmu, hanya kepada-Kulah kembali.”
Bu Zahra mengangkat tangannya menirukan pejabat yang sedang diangkat sumpahnya. Banyak sekali, cerita mengenai ayat ini yang akan Ibu sampaikan.”
Semua siswa tentu saja gembira mendapat janji akan dihadiahi cerita. Wua-lah, lihat! Mereka sibuk sekali menyiapkan alas tulisnya. Hi. . . hi, mereka kayak mengikuti lomba menulis cepat saja.
Siiipp, semua siswa sekarang sudah kumpul di taman masjid. Aduh, senang sekali melihatnya. Mereka semua begitu bergembira. Duduk membentuk setengah lingkaran, menghadap ke ibu guru yang menyambut muridnya dengan gembira.
“Nah, sebelum Ibu memulai ceritanya. Sekarang Ibu ingin tahu, mengerti-tidak kalian dengan maksud ayat tadi?” Tanya Ibu Zahra sebeluim bercerita dimulai.
“Ya, jangan terburu-buru bilang tidak mengerti, dong,” komentar Bu Zahra kepada muridnya yang serentak menggelengkan kepala. “Coba tanyakan pada Ibu apa yang kalian tidak mengerti.”
Sesuai permintaan gurunya, murid-murid membuka buku catatan dan membaca kembali apa yang telah ditulis tadi. Terdengar bisik-bisik di antara mereka. Nampaknya, mereka sedang mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin diajukan. Seperti biasa, itulah murid-murid Bu Zahra, santai tapi serius. Waktunya santai, ya santai. Waktunya serius, ya serius.
“Bu, apa betul sewaktu ibuku mengandung itu, ia semakin hari semakin melemah?” hakim paling duluan bertanya.
Sambil melirik ke Hakim, Salsabillah segera menyambungnya. “Bu, aku jadi heran. Apa betul ibu itu kepayahan waktu mengandungku.”
” Lho, memangnya kenapa Salsa?”
“Kalau memang kepayahan, kenapa setelah melahirkanku, ibu mau mengandung lagi? Adikku tiga lho, Bu.”
“Iya, betul Bu, apa yang ditanyakan kawan-kawan. Menurut Santi sendiri, ibu sepertinya tidak dapat susah seperti mengandung. Buktinya, ibu Santi sangat senang waktu diberitahukan dokter kalau sebentar lagi ibu akan melahirkan.” Santi dengan bangga memberikan dukungan kepada kawan-kawannya.
“Wah, wah, bagaimana kalian ini. Sekali diberikan kesempatan bertanya, sukanya pasti memberondong Ibu dengan banyak pertanyaan,” kata Bu Zahra sambil tersenyum. Bangga ia mendengar pertanyaan-pertanyaan yang diajukan muridnya.
Tapi hari ini, Bu Zahra lagi banyak tingkahnya. Lihatlah, itu. Pertanyaan muridnya belum juga dijwab, ia sudah mengajukan permintaan yang aneh-aneh. Buktinya, sekarang ia tugaskan murid-muridnya mengumpulkan batu-batu kecil, yang memang banyak terdapat di halaman masjid.
Sekalipun bingung mendengar permintaan gurunya, mereka menurut juga mengumpulkan batu-batu itu. Dan . . . “Selamat bekerja, ya!” gurau Bu Zahra sambil berjalan ke arah ruang guru. “Wew, Ibu kok gitu sih!” Ia hanya tersenyum mendengar gerutuan gurunya.
Tapi apa, ya, yang diinginkan Bu Zahra? Aih, coba lihat apa yang dibawanya? Hi. . . hi, ia ternyata membawa timbangan. Wah, benar juga nih. Bu Zahra kali ini lagi aneh tingkahnya. Sudah tak jelas kapan ia memulai bercerita. Kesal karena ia belum menjawab pertanyaan. Eh, ia malah menyuruh mereka mengumpulkan batu-batu kecil. Dan itu timbangan. . . buat apa timbangan?
“Tentunya kalian semua tahu.” Bu Zahra memulai lagi pembicaraan, setelah melihat murid-muridnya berhasil mengumpulkan batu yang cukup banyak.
“Tahu, apa Bu!”
“Ya, tahu, bahwa perut ibu kalian yang lagi hamil semakin hari semakin membesar. Betulkan?” Betul sih betul. Tapi, kenapa ia tidak mau berhenti bertanya dan segera mulai bercerita? Kini semua muridnya mulai enggan menjawab pertanyaan.
“Sekarang Ibu akan membuktikan pada kalian kalau ibu yang mengandung itu, semakin hari semakin bertambah lemah. Ya, dengan menggunakan batu-batu yang kalian kumpulkan. Ya juga, dengan menggunakan timbangan dan kantung plastik ini.”
Wah, seru juga apa yang dikerjakan Bu Zahra dengan timbangan dan kantong plastik yang dibawanya. Ternyata batu-batu yang dikumpulkan, sangat berguna untuk menjelaskan maksudnya.
Lihat saja. Sekarang masing-masing murid ditugaskan untuk menimbang batu-batunya. Beragam berat masing-masing kantung. Tapi Bu Zahra menyuruh muridnya supaya tidak mengisi kantung plastik melebihi 3 kg.
Lucu juga. Bu Zahra memberitahukan kalau kantung plastik semakin diperberat bebannya, kantung itu akan kelihatan semakin besar. “Seperti ini, ya, Bu,” unjuk beberapa murid yang sudah selesai menimbang kantung batunya.
“Coba, sekarang kalian angkat plastik itu dengan kedua tangan kalian,” ajak Bu Zahra selepas semua kantung sudah ditimbang.
“Sekarang kita coba kuat-kuatan mengangkatnya. Yang paling lama mengangkatnya, dia yang paling kuat.”
Mungkin karena ingin jadi yang paling kuat, mereka berebut mengambil kantung plastik yang sedikit isinya. Yang tanggung sudah mengisinya terlalu berat pun, mengeluarkan lagi sebagian isinya.
Lima menit sudah berlalu. Belum ada satu pun murid yang menurunkan kantung batunya. Mereka malah mengangkat kantung plastik sambil ngobrol dan ketawa-tawa. Tapi tak lama kemudian, beberapa murid tampak sudah kelelahan. Siapa, ya, yang paling kuat?
“Wah, nampaknya kita bisa kehabisan waktu.kalian memang kuat-kuat. Hebat itu,” komentar Bu Zahra disela kesibukannya mengisi dan menimbang sendiri kantung batu yang baru.
“Karena semuanya hebat. Sekarang ganti, ya, bebannya dengan kantung yang Ibu timbang. Semua kantung ini beratnya 3 kg.”
“Ah, inu. Kok, begitu sih,” gerutu Sarah. Sarah tampaknya kesal juga, terus-menerus dikerjain.
“Habis, kalau diteruskan dan sampai habis waktu belajar belum ketahuan jagoannya, tak jadi dong Ibu bercerita.” Mendapat jawaban demikian, Sarah tak meneruskan kekesalannya. “Ayo, sekarang kita buktikan siapa yang paling kuat!” muroid-murid berebutan mengganti kantung plastik dengan yang beratnya 3 kg.
Wah, mereka ternyatakepayahan juga lama-lama mengangkat batu seberat 3 kg. Murid laki yang tenaganya lebih besar juga, hanya kuat mengangkatnya beberapa menit saja. Buktinya, Tommy yang paling kuat tidak lebih dari lima menit dapat mengangkatnya.
“Nah, kalau kalian semua kepayahan mengangkat beban seberat itu, sekarang coba bayangkan ibumu yang sedang hamil besar. Kalian kan tahu, kalau bayi yang dilahirkan itu beratnya rata-rata 3 kg?” Bu Zahra akhirnya membuka rahasi permainannya.
“Tapi Bu, ibu kan tidak langsung membawa-bawa adik bayi yang beratnya 3 kg. Ya, kan?” Tommy yang tadi jadi paling kuat, memprotes penjelasan itu.
“Betul, betul sekali, apa yang dikatakan Tommy. Kan seperti Ibu sebutkan, perut ibu yang sedang mengandung semakin hari akan semakin membesar. Membesarnya perut ibu, itu tandanya semakin besar pula ukuran bayi yang dikandungnya. Semakin besar, ya, sama artinya dengan semakin berat.
“Jadi kalau tadi kalian masih bisa tertawa, waktu mengangkat beban yang tak seberapa beratnya. Sekarang coba bayangkan, apakah kalian mau kalau disuruh mengangkatnya selama berhari-hari, atau malah berbulan-bulan? Apa kalian tidak kesal dibuatnya kalau disuruh begitu?”
Semua murid tertwa mendengar pertanyaan Bu Zahra. Bagaimana mereka tidak tertawa. Bukankah sekalipun mereka kuat mengangkatnya, akhirnya mereka akan bosan kalau Cuma mengerjakan yang begitu-begitu saja?
Wah, tapi apa memang ada yang bakalan kuat, kalau merekja mengangkat beban 1 kg selama seharian sekalipun? Nah!
“Coba kalian bayangkan lagi. Bagaimana kalau ibu kita, mulai dari bulan pertama terus-menerus membawa beban itu, dan beban itu juga terus-menerus bertambah berat. Terus, terus, sampai akhirnya berat itu sekitar 3 kg. Terus, terus, sampai waktu melahirkan, waktu kandungannya berusia sekitar sembilan bulan. Terus, terus. . . .
“Hai, kenapa kalian jadi pada bengong?” Ibu Zahra mengagetkan muridnya yang keasyikan mendengar cerita. “Ayo, kalian bayanghkan lagi,” pintanya lagi, tanpa memberikan kesempatan untuk bertanyaterlebih dahulu. Padahal beberapa murid terlihat jelas mengacungkan tangan tinggi-tinggi.
“Apakah kalau kalian kepayahan waktu mengangkat batu-batu seberat 3 kg. Ibu kita yang harus membawa adik bayi mulai dari beratnya yang tak seberap[a, sampai kemudian seberat 3 kg selama sembilan bulan, tidak kepayahan?”
Bu Zahra senyum-senyum saja melihat muridnya yang keterusan bengong. Tapi alhamdulillah, ia masih menyempatkan diri menjawab pertanyaan muridnya. Baru setelah mereka puas dan mengerti kalau setiap ibu memang semakin hari semakin bertambah lelahdengan kandungan yang dibawanya. Ibu Zahra mengajak mereka bekerja bersama, merapikan kembali batu-batu yang dikumpulkan pada tempatnya semula.
Selesai mendengarkan adzan Ashar. Bu Zahra mengakhiri pengajian dengan doa bersama, dan tak lupa menjanjikan kan melanjutkan ceritanya pada besok hari.
Semua murid gembira. Mereka berlomba mengambil air wudhu.
DARI MH. ARIPIN ALI
hmm, great…
salam kenal
Oleh: Fadhilatul Muharram on April 14, 2009
at 9:43 am